ASITA Bali Logo
 
  ASSOCIATION OF
THE INDONESIAN TOURS &
TRAVEL AGENCIES
| EN  
Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies - The Official Website
Home   About ASITA   Convention   Forum   Contact Us
Membership   DPD Se-Indonesia   Regulation   Bali & Beyond   News & Events

 


Ketut Ardana, SH
Chairman of
DPD ASITA Bali
FROM CHAIRMAN
Bali yang kita dambakan bersama adalah sebuah destinasi dengan segala fasilitas dan atraksi yang tiada habisnya. Selalu ada yang baru, namun yang lama tidak pernah ditinggalkan.
more....
 
 
NEWS & EVENT
Pemberlakuan Kembali Fuel Surcharge
10th February 2014

Sehubungan dengan telah diberlakukan kembali Fuel Surcharge (FS) beberapa waktu lalu yang dipungut dalam komponen pembelian Tiket Pesawat, maka kami informasikan dan sampaikan pemberlakuan Fuel Surcharge.... more
Royal Brunei Airlines Returns to the Island of Bali
26th July 2014

Royal Brunei Airlines (RB) plans to resume flights to Bali, Indonesia four times a week starting Saturday 26th July 2014.... more
Sosialisasi Virus MERS - CoV
16 May 2014, BALI

Terkait dengan kiriman surat oleh Bali Tourism Board (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia - Bali) mengenai bahaya dan permohonan pencegahan virus.... more
Search Member:

Sign up for our newsleter
Stay update with all our latest news

Keindahan alam yang menggoda, keramahan penduduk yang melegenda…

Bisakah dunia menemukan, atau kalau itu tidak mungkin menciptakan, pulau Bali kedua, dengan segala atraksi alam yang menggoda, gunung tinggi semampai, ombak menggulung tiada henti, pantai pasir putih bersih panjang membentang, ratusan sungai berliku mengiris hamparan sawah hijau, hutan perawan menutup puncak-puncak pegunungan dari ujung barat ke ujung timur, dan sebagainya dan sebagainya?

Jawabannya mungkin saja. Kalaupun tidak bisa menemukan, dunia dengan segala teknologi yang super canggih bisa membuat ‘photo-copy’ Bali di sembarang tempat di muka bumi. Yang menjadi pertanyaan berikutnya, bisakah dunia menemukan, atau kalau tidak mungkin membentuk, tiga juta masyarakat Hindu yang menjunjung tinggi budaya sendiri tapi juga sekaligus menghormati para tamunya, dengan segala keramahan dan senyum tulus menyambut siapapun yang datang berkunjung? Rasanya ini tidak mungkin.

Memang benar ombak putih dan pantai bersih bisa ditemukan di mana-mana, gunung yang menyimpan hutan perawan dan sumber air danau yang mengalir ke petak-petak sawah ada di beberapa tempat di dunia. Tapi keberadaan tiga juta masyarakat Hindu yang telah beribu tahun menjunjung berbagai aspek budaya seperti pertanian dengan aturan subak yang rapi, tarian yang menghipnotis, senyuman yang datang dari hati, penghormatan terhadap tamu dengan budaya asing yang serba-serbi, dan kesediaan menjaga adat dan budaya sendiri, rasanya memang hanya ditemukan di Bali.

Bahkan Jawaharlal Nehru, perdana menteri India yang berkunjung ke Bali tahun lima puluhan, mengakui bahkan tradisi semacam di Bali sudah ada tidak ada di tanah nenek moyang agama Hindu Dharma, India. “Tuhan membawa seluruh bakat dan karya seni India ke Bali, menyisakan benua kami abu kremasi”, demikian ungkapan terkenal sang perdana mentri, yang menjadi salah satu ungkapan paling terkenal mengenai pulau Bali. Menurut Nehru, memang India negeri Hindu, tetapi karya seni Hindu seperti tarian, upacara adat, bakat melukis dan mematung, telah lama ditinggalkan, hanya upacara kremasi yang masih bertahan.

Bahkan dalam satu atau beberapa bentuk perayaan keagamaan, atmosfernya bisa bertolak belakang. Misalnya orang Bali masih menjunjung tinggi perayaan Nyepi, di mana selama 24 jam orang ‘meninggalkan’ empat komponen penting kegembiraan; ‘cahaya/api, makan/minum, bepergian dan bersenang-senang. Di India sudah tidak ada upacara Nyepi, justru yang ramai adalah upacara dewali, atau dipawali, biasanya dirayakan sekitar bulan Oktober atau November. Orang bersenang-senang meyalakan segala macam cahaya, lilin, lampu, kembang api dan sebagainya. Penanggalan Çaka yang merupakan tradisi penting Hindu India, justru diabadikan di Bali sebagai patokan penghitungan berbagai upacara agama, sementara di negeri kelahirannya orang sudah mulai meninggalkannya.

Bagaimana ini semua terjadi? Ada berbagai aspek penting yang membentuk keramahan dan ketaatan masyarakat Hindu Bali. Yang paling paling mendasar adalah ajaran Hindu Dharma itu sendiri. Dalam perjalanan panjang menuju Bali, tradisi Hindu dan Buddha India mendapat tempat sekaligus pengaruh kuat dari tradisi Jawa. Selama proses sintesa tersebut, ajaran kepribadian Confusius Cina juga masuk ke dalamnya. Kemegahan Candi Borobudur (Buddha), Prambanan (Hindu) dan keberadaan ribuan candi-candi yang lain meyakinkan teori tersebut. Juga keutamaan uang kepeng Cina dalam tiap upacara penting, berikut tarian barong sai, simbul-simbul nagabanda, dan warna-warna Cina adalah bukti terjadinya sintesa kental dalam pembentukan Hindu Dharma Bali sekarang ini.

Sejarawan Australia, Adrian Vickers, yang memfokuskan penelitiannya pada budaya Nusantara menyebut dalam ungkapan yang melegenda: “Bali is a living museum of Hindu Java” (Bali adalah musium hidup sejarah Hindu Jawa).

Dalam konstelasi perkembangan Hindu dengan berbagai aspek tersebut terangkum sebuah ajaran penting yang menjiwai masyarkat Hindu Bali, yakni Tri Hita Karana, atau tiga sumber kebahagiaan. Bahwa kebahagiaan akan tercipta jika manusia menjaga hubungan harmonis dalam tiga aspek, yakni berbakti kepada Tuhan, menjaga alam sekitar dan menghormati sesamanya.

Ketiga aspek itulah yang dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali dalam kehidupan sehari hari: upacara dan persembahan yang tiada hentinya kepada Hyang Widhi Wasa, menata dan mengatur dengan rapi alam sekitar, termasuk daerah pertanian, dan menghargai sesama manusia, baik tetangga maupun tamu dari dunia antah berantah.

Jadi pesona alam Bali mungkin saja bisa ditemukan atau diciptakan, tetapi gabungan antara atraksi alam dan keramahan dan ketaatan penduduk yang melegenda barangkali hanya ada di Bali. Tak heran Bali memiliki berbagai akronim melegenda yang makin membuat orang terpesona, dua di antaranya adalah The Last Paradise (seniman dan penulis serba bisa asal Meksiko Miguel Covarrubias), Morning of the World (Perdana Mentri Inida Jawaharlal Nehru).

Dari Adventure, Kecantikan Para Wanita, Spa Hingga Kuliner, Adakah Yang Terlewatkan?

Keindahan Bali, keluhuran budaya, keramahan penduduknya dan kecantikan para wanitanya, telah berabad-abad eksis, tapi daya tarik wisata yang demikian hebat baru dikenal dunia dalam beberapa puluh tahun belakangan ini. Kenapa demikian?

Setidaknya selama lima ratus tahun semenjak keruntuhan Majapahit pada akhir abad kelimabelas (Sirna Ilang Kerthaning Bhumi, sekitar 1478), Bali menjadi tempat ‘persembunyian’ para punggawa dan abdi dalem dinasti Hindu Jawa tersebut. Kedatangan Danghyang Nirartha ke Bali dengan mega-proyeknya mendirikan sembilan pura Sad Kahyangan untuk membentengi Bali dari pengaruh luar, telah membantu menjadikan Bali istana indah yang aman tersembunyi.

Bahkan gubernur jenderal Inggris untuk Jawa, Thomas Stamford Raffles, yang sangat tertarik dengan alam, tradisi dan budaya Nusantara, tidak berhasil menembus benteng alami yang melindungi Bali, diluar benteng niskala yang dibangun oleh sang pedanda. Raffless menggambarkan Bali sebagai pulau yang dibentengi oleh ‘rangkaian puncak gunung di belahan utara, dan deretan karang berbahaya di belalahan selatan’.

Kongsi dagang dan pemerintah Belanda yang telah bercokol dan menguasai sebagian besar Nusantara semenjak abad ketujuhbelas, juga gagal menguasai Bali. Pulau dewata baru bisa ditundukkan setelah pecah perang Puputan pada tahun 1906. Meski akhirnya berhasil dikuasai, Bali diperlakukan berbeda dengan daerah jajahan lain di Indonesia. Belanda, karena tekanan negera-negara tetangga di Eropa, membiarkan pulau Bali apa adanya, dengan budaya yang dibiarkan berkembang. Satu-satunya yang dibenahi Belanda adalah sistem drainasi kota dan model pengairan agar lebih maju. Uniknya, Belanda bahkan melarang misionaris Kristen masuk ke Bali. Jadi, Bali benar-benar keindahan yang terjaga dan tersembunyi.

Adalah Gregor Krause, dokter muda asal Jerman yang dipekerjakan oleh pemerintah Belanda yang pertama-tama berjasa membuka tabir pariwasata Bali. Gregor muda ditugaskan ke Kintamani/Bangli untuk membantu menangani wabah cacar di daerah pegunungan tersebut. Gregor bukan hanya berhasil memberantas penyakit menular tersebut, dia berhasil menyusun buku, judulnya Bali 1912. Isi buku ini? Seluruh aspek Bali, dari alam, upacara hingga kebiasaan sehari-hari masyarakat setempat. Meski Bali ditampilkan secara keseluruhan, photo gadis dan wanita telanjang dada atau benar-benar telanjang menjadi menu utama.

Gregor punya alasan kuat menampilkan photo-photo sensual tersebut. Meski kurang dari setahun bertugas di Bangli, dokter muda ini telah memeriksa tak kurang dari 10,000 pasien, kebanyakan wanita. Dari observasi tersebut dia menyimpulkan bahwa wanita Bali memiliki ‘payudara paling cantik di dunia’.

“Kebiasaan menyunggi beban atau sesajen di kepala dengan tangan dan bahu tertarik ke atas menjadikan otot-otot sekitar dada mengencang, ini menjadi pondasi yang bagus bagi terbentuknya payudara yang kencang dan cantik,” demikian simpul Gregor. “Baju tidak menambah kecantikan ini tetapi untungnya juga tidak menyembunyikankannya.”

Karena Eropa dilanda perang dunia dari 1914 hingga 1918, Gregor, karena berpaspor Jerman, ditangkap tentara Inggris tahun 1914 di Afrika Seladan dan dipenjarakan di dekat London hingga perang usai. Buku 1912, tahun saat dia ditugaskan di Bali, baru bisa terbit tahun 1920. Pengalaman penjara Inggris ini menjadikan kenangan buruk dan menjadi bahan tulisan dalam buku tersebut, khususnya sebagai perbandingan bagaimana raja-raja Bali memperlakukan dengan hormat para tawanan perang.

Terbitnya Bali 1912 membuat dunia terperanjat. Di tengah suasana kalut karena perang dan sikap kebencian antar sesama manusia, buku Gregor bagai oase ditengah kekeringan. Bahwa di bagian dunia yang lain, Bali, manusia hidup rukun, menjunjung tinggi martabat, menjaga alam dengan bekerja keras mengolahnya, dan berbakti kepada Tuhan dengan menghaturkan berbagai sesajen warna-warni, terus menerus.

Tak ayal buku tersebut laris manis pada awal penerbitannya, dan segera menyusul cetakan berikutnya. Inilah buku yang menjadi pemantik pariwisata Bali. Bahkan penulis/kartunis dan seniman serbabisa Mexiko yang besar di New York, Miguel Covarrubias, mengaku sangat terkesan oleh buku tersebut dan perjalanan bulan madunya ke Bali tahun 1930an semata-mata karen ingin membuktikan sendiri seperti apa Bali. Covarrubias tidak salah menilai, beliau sendiri menulis buku klasik tentang Bal yang masih populer hingga kini, the Island of Bali. Covarrubias terkenal karena akromimnya, the Last Paradise. Saking terkenalnya akronim tersebut di seantero jagad, dunia tahu judul buku Covarrubias adalah The Last Paradise, bukan the Island of Bali.

Meski Gregor Krause, Covarrubias dan beberapa penulis kelas dunia telah memperkenalkan Bali sebagai ikon pariwisata dunia, adalah para pahlawan tak bernama tahun 1960an yang menjadikan Bali benar-benar sebagai surga pariwisata. Mereka adalah par hippies Australia dan Amerika yang berkeliling dari satu pantai surfing ke pantai surfing yang lain. Mereka lah yang benar-benar membuka sudut-susut tak dikenal masyarakat seperti Kuta, Uluwatu, Padang-padang, Dreamland, Balangan, Nusa Dua, Nusa Penida. Daerah ini, yang sekarang menjadi tujuan pariwisata elit, limapuluh tahun lalu adalah pantai sepi tak berpenghuni, selain satu dua nelayan pemberani.

Dari para surfer inilah akhirnya muncul industri yang lain seperti massage tepi pantai (cikal bakal industri spa modern), baju pantai (industri dengan omset milayaran dolar saat ini), warung dan restoran dengan cita rasa untuk memenuhi selera berbagai anak bangsa. Dari industri surfing ini juga beberapa industri yang lain mengikuti, seperti akomodasi, kuliner, adventure dan budaya dan saat ini kita disibukan dengan proyeksi Bali sebagai pusat MICE (Meeing, Incentive, Convention and Exhibition) dunia.

Pokoknya, dari dasar laut Tulamben atau Nusa Penida yang menjadi ikon wisata selam hingga puncak gunung Agung atau Batur yang menjadi simbul atraksi adventure, industri pariwisata budaya Bali tak lepas dari para peran para petualang, selain tentunya para penulis seperti Gregor Krause dan Covarrubias.



size 100 x 250px



size 100 x 250px
 
   
   
 
 
© 2014 ASITA BALI. All Rights Reserved.
Designed & Maintained by
Intermedia Pressindo
Wonderful Indonesia Bali Shanti Bali Tourism Board